Senin, 18 November 2013

 Zaman sekarang, banyak muslim yang tidak peduli terhadap sejarah Islam. Padahal sejarah Islam sangat penting untuk diketahui agar Islam tidak luntur tergerus zaman. Sejarah Islam sangat dipengaruhi oleh perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya dalam berdakwah dengan cara baik-baik ataupun dengan perang. Cukup banyak peperangan yang telah terjadi dan dimenangkan oleh pasukan Muslim saat Rasulullah masih hidup, contohnya Perang Badar dan Perang Mu’tah. Namun setelah Beliau wafat, terjadi perpecahan dalam kaum muslimin, salah satunya dalam Perang Jamal. Perang Jamal (juga dikenal sebagai Perang Unta atau Perang Basra) adalah perang yang terjadi di Basra, Irak pada tahun 656 masehi, antara pasukan Ali bin Abi Talib dengan pasukan Aisyah yang menginginkan keadilan atas terbunuhnya khalifah terdahulu yaitu Utsman bin Affan.
     Setelah Ali bin Abi Thalib dibai’at, Thalhah dan Zubair meminta ijin kepadanya untuk pergi ke Makkah. Ali pun menginjinkan mereka. Mereka kemudian bertemu dengan Ummul Mukminin Aisyah disana. Saat itu Aisyah sudah mendengar kabar bahwa Utsman terbunuh. Maka, mereka semua berkumpul di Makkah, hendak menuntut balas atas terbunuhnya Utsman.
     Tidak lama kemudian, Ya’la bin Munyah dari Bashrah dan Abdullah bin Amir dari Kuffah datang ke Makkah. Mereka semua berkumpul di Makkah juga untuk menuntut balas atas terbunuhnya Utsman. Mereka lalu keluar dari Makkah diikuti oleh orang-orang di belakang mereka, pergi menuju ke Bashrah hendak mencarai pembunuh Utsman. Semua itu mereka lakukan karena mereka memandang bahwa mereka telah lalai dalam menjaga Utsman. Ketika itu, Ali berada di Madinah, semenetara Utsman bin Hunaif adalah gubernur Bashrah yang diangakat oleh Ali bin Abi Thalib.
     Sesampainya mereka di Bashrah, Ali menugaskan Utsman bin Hunaif untuk menanyakan tujuan mereka datang ke Bashrah. Mereka menjawab: “Kami menginginkan pembunuh Utsman.” Utsman bin Hunaif berkata: “Tunggulah hingga Ali datang. Ia melarang untuk masuk ke Bashrah.”
     Ketika itulah, Jabalah keluar menemui mereka. Jabalah adalah salah seorang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. Ia menyerang mereka dengan jumlah pasukan 700 personil. Namun mereka dapat mengalahkannya dan membunuh personil yang bersamanya. Sementara banyak juga penduduk Bashrah yang bergabung dengan pasukan Thalhah, Zubair, dan Aisyah ini.
     Ali kemudian keluar dari Madinah, bergerak menuju Kufah. Ini terjadi setelah ia mendengar kabar bahwa telah terjadi peperangan antara Utsman bin Hunaif dengan Thalhah, Zubair, dan Aisyah, serta orang-orang yang bersama mereka. Ali keluar setelah menyiapkan pasukan yang berjumlah 10.000 orang untuk menyerang Thalhah dan Zubair.
     Disini kita melihat secara jelas bahwa Ali bin Abi Thaliblah yang keluar mendatatangi mereka, bukan mereka yang keluar menuju Ali. Mereka juga tidak bermaksud memerangi Ali sebagaimana yang diklaim oleh sebagian kelompok dan orang-orang yang terpengaruh oleh isapan jempol terkait peperangan ini. Jikalau mereka ingin memberontak terhadap Ali, tentunya mereka akan langsung pergi menuju ke Madinah, bukan ke Bashrah.
     Dengan demikian, jelaslah bahwa Thalhah, Zubair, dan Aisyah, serta orang-orang yang ikut bersama mereka tidak pernah membatalkan dan menolak kekhalifahan Ali. Mereka juga tidak mencela, tidak menyebutkan kejelekan, tidak membai’at orang selain Ali, dan tidak pergi menuju Bashrah untuk menyerang Ali. Karena, ketika itu Ali memang tidak berada di Bashrah.
     Oleh karena itu, Al-Ahnaf bin Qais berkata: “Aku bertemu Thalhah dan Zubair setelah terjadi pengepungan terhadap Utsman, lantas bertanya: “Apa yang kalian berdua perintahkan kepadaku? Karena, aku melihat Utsman telah terbunuh.’ Mereka berdua menjawab: ‘Ikutilah Ali.’ Aku kemudian bertemu dengan Aisyah di Makkah setelah terjadi pembunuhan terhadap Utsman, lalu bertanya: “Apa yang engkau perintahkan?’ Dia menjawab: ‘Ikutilah Ali.” 
     Ali mengirimkan Al Miqdad bin Al Aswad dan Al Qa’qa bin Amr untuk berunding dengan Thalhah dan Zubair. Pihak Al Miqdad dan Al Qa’qa sepakat dengan pihak Thalhah dan Zubair untuk tidak berperang. Masing-masing pihak menjelaskan sudut pandang mereka. Thalhah dan Zubair berpendapat bahwa tidak boleh membiarkan pembunuh Utsman begitu saja, sedangkan pihak Ali berpendapat bahwa menyelidiki siapa pembunuh Utsman untuk saat sekarang bukan hal paling mendesak. Namun, hal ini bisa ditunda sampai keadaan stabil. Jadi, mereka sepakat untuk mengqishash para pembunuh Utsman. Adapun yang mereka perselisihkan adlah waktu untuk merealisasikan hal tersebut.
     Setelah kesepakatan itu, dua pasukan pun bisa tidur dengan tenang, sedangkan para pengikut Abdullah bin Saba (para pembunuh Utsman) terjaga dan melewati malam yang buruk, karena akhirnya kaum Muslimin sepakat untuk tidak saling berperang.
     Ketika itu para pengikut Abdullah bin Saba sepakat akan melakukan apa pun agar kesepakatan tersebut dibatalkan. Menjelang waktu subuh, ketika orang-orang sedang terlelap, sekelompok orang dari mereka menyerang pasukan Thalhah dan Zubair, lalu membunuh beberapa orang diantara pasukan mereka. Setelah itu, mereka melarikan diri. Pasukan Thalhah mengira bahwa pasukan Ali telah mengkhianati mereka. Pagi harinya, mereka menyerang pasukan Ali. Melihat hal itu, pasukan Ali mengira bahwa pasukan Thalhah dan Zubair telah berkhianat. Serang-menyerang antara kedua pasukan ini pun berlangsung sampai tengah hari. Selanjutnya, perangpun berkecamuk dengan heabatnya.
     Para pembesar pasukan dari kedua belah pihak telah berupaya menghentikan peperangan, namun mereka tidak berhasil. Ketika itu Thalhah berkata: “Wahai manusia, apakah kalian mendengar!” Namun mereka tidak mendengarkan seruannya. Lalu, dia berkata: “Buruk! Buruk sekali jilatan neraka! Buruk sekali kerakusan!”
     Ali juga berupaya melerai mereka, namun mereka tidak menggubrisnya. Aisyah kemudian mengirimkan Ka’ab bin Sur dengan membawa mushaf untuk menghentikan perang, namun para pengikut Abdullah bin Saba membidiknya dengan anak panah sampai menewaskannya.
     Perang Jamal terjadi pada tahun 36 H atau pada awal kekhilafahan Ali. Perang ini mulai berkecamuk setelah dzuhur dan berakhir sebelum matahari terbenam pada hari itu.
     Dalam peperangan ini, Ali disertai 10.000 personil pasukan, sementara Pasukan Jamal (berunta) berjumlah 5.000 – 6.000 prajurit. Bendera Ali dipegang oleh Muhammmad bin Ali bin Abi Thalib, sementara bendera Pasukan Jamal dipegang oleh Abdullah bin Zubair.
     Pada perang ini banyak sekali kaum muslimin yang tewas terbunuh. Inilah fitnah yang kita berharap kepada Allah agara menyelamatkan pedang-pedang kita darinya. Kita memohon kepada Allah agar meridhai dan memberi ampunan kepada mereka (kaum Muslimin yang iktu dalam perang ini).
     Thalhah, Zubair, dan Muhammad bin Thalhah tewas terbunuh. Mengenai Zubair, ia sebenarnya tidak ikut serta dalam perang ini. Begitu juga dengan Thalhah. Karena ada sebuah riwayat menyebutkan bahwasanya ketika Zubair datang pada perang ini, ia bertemu Ali bin Abu Thalib, lantas Ali berkata kepadanya: “Apakah engkau ingat bahwa Rasulullah pernah bersabda: ‘Engkau akan memerangi Ali sedangkan engkau dalam posisi mendzaliminya.’”Maka, pada hari itu Zubair kembali dan tidak ikut berperang
     Jadi yang benar adlah Zubair tidak ikut perang. Tetapi apakah dialog yang disebutkan dalam riwayat itu memang terjadi antara ia dan Ali? Wallahu a’lam. Karena , riwayat ini tidak memiliki sanad yang kuat. Namun, begitulah yang masyhur dalam buku-buku sejarah. Ada lagi riwayat yang lebih masyhur, yakni Zubair tidak ikut dalam perang ini, namun ia dibunuh secara diam-diam oleh seorang yang bernama Ibnu Jurmuz.
     Sementara itu, Thalhah terbunuh karena terkena anak panah nyasar. Namun, yang masyhur, orang yang membidiknya adalah Marwan bin Alhakam. Bidikan Marwan mengenai kakinya, tepat pada bekas luka lamanya. Ketika itu ia sedang berusaha melerai para prajurit yang berperang.
     Seusai perang, banyak prajurit yang terbunuh. Khususnya, mereka yang menjaga unta yang dikendarai oleh Aisyah, karena Aisyah merupakan simbol bagi mereka, bahkan mereka mati-matian dalam melindunginya. Karena itu, dengan tumbangnya unta Aisyah, perang pun berhenti dan selesai. Kemenangan berada di pihak Ali bin Abu Thalib, walaupun sebenarnya tidak ada pihak yang menang. Justru, Islam dan kaum Muslimin memperoleh kerugian dalam perang ini.
     Pasca Perang Jamal, Ali berjalan di antara para korban yang tewas, lalu menemukan mayat Thalhah bin Ubaidillah. Setelah mendudukannya dan mengusap debu dari wajahnya, Ali berkata: “Wahai Abu Muhammad, alangkah berat perasaan ini melihatmu meninggal tergeletak di atas tanah di bawah bintang-bintang langit.” Ia pun kemudian menangis seraya berkata: “Aduhai, seandainya aku mati dua puluh tahun silam sebelum peristiwa ini.”.
     Setelah itu, Ali melihat mayat Muhammad bin Thalhah (yaitu anak dari Thalhah), lalu ia menangis lagi. Muhammad bin Thalhah adalah orang yang dijuluki dengan Assajjad (orang yang banyak sujud) karena dia banyak beribadah. Seluruh Sahabat yang mengikuti perang ini, tanpa terkecuali, menyesali apa yang telah terjadi.
     Ibnu Jurmuz menemui Ali sambil membawa pedang milik Zubair, lalu berkata: “Aku telah membunuh Zubair, aku telah membunuh Zubair.” Mendengar hal itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah. Berikanlah berita gembira kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (Zubair) bahwa ia akan masuk Neraka.” Setelah itu Ali tidak mengijinkan Ibnu Jurmuz untuk menemuinya.
     Pasca Perang Jamal, Ali menemui Aisyah, kemudian mengantarkannya pulang ke Madinah dengan penuh kemuliaan dan kehormatan. Sebab, dahulu Nabi pernah memerintahkan kepada Ali agar memuliakan dan menghormati Aisyah.
     Jadi kesimpulannya Perang jamal terjadi sebagai akibat dari perbedaan pendapat orang-orang pada masa itu tentang penuntutan balas atas terbunuhnya Utsman dan pendapat Ali yang lebih mendahulukan untuk menata kembali negara yang telah berpecah setelah terjadinya fitnah. Pintu fitnah ini telah menyeret para sahabat ke medan pertempuran sesama sendiri. Campur tangan golongan munafiqun yang diketuai oleh pendiri Syi’ah, Abdullah bin Saba, telah memainkan peranan dalam menghidupkan pertarungan sesama para sahabat.  Sesungguhnya pertempuran tersebut bukan karena perebutan harta dan kekuasaan, tetapi sebaliknya karena ingin melihat keadilan dan kebenaran. Para Ulama sepakat bahwa Ali berada pada posisi yang benar, karena banyak yang meriwayatkan bahwa Aisyah dan para sahabat lainnya yang menentang Ali telah bertaubat setelah kejadian itu, oleh karena itu para ulama melarang kita untuk menyalahkan salah satu dari mereka karena mereka adalah para sahabat Nabi SAW dan mereka telah bertaubat.

~Salam Portal Dunia~

Leave a Reply

Silahkan kalian boleh berkomentar apapun, yang penting jangan memasukkan kata-kata kasar, jangan spam, jangan menyinggung SARA, n jangan ngasih link-link yang tidak bermanfaat sama sekali yaa.. :) :)

~Salam Portal Dunia~

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

follow

Anda pengunjung ke ...

Top Articel

Profil Saya

Followers

Kirim SMS Gratis

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Portal Dunia -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Modified by Akmal Adi -

[Tutup]